Pasar buku self-help di Asia berkembang pesat, didorong oleh generasi muda yang proaktif mencari bimbingan untuk menavigasi kompleksitas karier, hubungan, dan kesehatan mental di tengah tekanan sosial yang tinggi. Berbeda dengan buku self-help Barat yang sering berfokus pada individualisme, karya dari penulis Asia seringkali menyoroti harmoni sosial, etos kerja kolektif, dan pentingnya ‘wajah’ atau reputasi.
Buku-buku dari penulis Asia menawarkan perspektif yang lebih relatable terhadap isu-isu khas yang dihadapi di wilayah ini, seperti tekanan orang tua yang intens, budaya kantor yang hierarkis, atau mencari keseimbangan antara tradisi dan modernitas. Karya-karya ini memberikan strategi praktis yang sesuai dengan konteks budaya dan psikologi Asia.
Beberapa penulis fokus pada filsafat timur, seperti Zen atau Konfusianisme, mengemas ulang ajaran-ajaran kuno ini menjadi kiat-kiat gaya hidup yang dapat diterapkan untuk mengatasi stres atau mencapai kesuksesan finansial. Pendekatan ini menarik karena menawarkan solusi yang terasa otentik secara budaya.
Kepopuleran buku-buku ini juga didorong oleh media sosial, di mana influencer dan book-tuber secara aktif merekomendasikan bacaan yang telah membantu mereka. Ini menjadikan membaca buku self-help sebagai bagian dari gaya hidup self-improvement yang terlihat aspiratif dan dapat dibagikan secara publik, didorong oleh keinginan kolektif untuk menjadi versi diri yang lebih baik.
Secara keseluruhan, pertumbuhan pasar buku self-help Asia menunjukkan bahwa generasi baru memiliki gaya hidup yang sangat sadar diri dan termotivasi untuk melakukan pengembangan diri secara terus-menerus, mencari kearifan yang menggabungkan panduan universal dengan kebijaksanaan lokal.
