Jepang dikenal sebagai tolok ukur global dalam pencegahan dan mitigasi bencana alam, terutama gempa bumi dan tsunami. Strategi pencegahan bencana di negara ini merupakan hasil dari pengalaman traumatis berulang dan investasi jangka panjang dalam sains, teknologi, dan pendidikan. Pendekatan komprehensif Jepang berakar pada integrasi antara teknik sipil, regulasi ketat, dan budaya kesiapan.
Salah satu kunci suksesnya adalah penerapan kode bangunan yang sangat ketat, yang mewajibkan struktur tahan gempa untuk semua jenis bangunan, dari rumah tinggal hingga pencakar langit. Selain itu, sistem peringatan dini gempa dan tsunami Jepang adalah salah satu yang paling canggih di dunia, mampu memberikan peringatan dalam hitungan detik setelah gelombang seismik pertama terdeteksi.
Namun, yang paling membedakan adalah aspek sosial dan pendidikan. Latihan evakuasi bencana (drill) dilakukan secara rutin di sekolah dan tempat kerja, membentuk masyarakat yang secara insting tahu cara merespons saat bahaya tiba. Pemerintah juga secara teratur memperbarui peta bahaya (hazard maps) dan mempromosikan penyimpanan persediaan darurat pribadi.
Strategi Jepang menunjukkan bahwa pencegahan bencana bukan hanya masalah teknis, tetapi juga masalah ketahanan sosial dan budaya yang ditanamkan sejak dini. Model ini kini menjadi studi kasus bagi banyak negara Asia lainnya yang berupaya meningkatkan kemampuan mereka dalam menghadapi bencana alam.
Strategi pencegahan bencana di Jepang berhasil berkat kode bangunan tahan gempa yang ketat, sistem peringatan dini canggih, dan budaya kesiapan yang ditanamkan melalui latihan evakuasi rutin dan pendidikan publik berkelanjutan.

