Di tengah dominasi kamera digital dan smartphone, tren fotografi analog atau kamera film mengalami kebangkitan yang menarik di kalangan anak muda Asia. Generasi Z dan Milenial, yang tumbuh di era digital, kini berbondong-bondong menemukan kembali pesona estetika retro dan proses yang unik dari fotografi film. Ini bukan sekadar nostalgia, melainkan pencarian akan autentisitas dan pengalaman yang lebih lambat dan terencana dalam dunia yang serba cepat.
Salah satu daya tarik utama fotografi analog adalah estetika visualnya yang khas. Warna-warna yang lebih kaya, tekstur butiran (grain) yang halus, dan karakteristik vignetting yang dihasilkan oleh kamera film memberikan nuansa yang berbeda dari gambar digital yang jernih dan tajam. Efek vintage ini seringkali dianggap lebih artistik dan memiliki karakter. Anak muda mengapresiasi keunikan setiap foto film yang tidak dapat direplikasi dengan mudah oleh filter digital.
Selain hasil akhirnya, proses fotografi analog itu sendiri menawarkan pengalaman yang lebih imersif dan meditatif. Dari memilih jenis film, mengatur aperture dan kecepatan shutter secara manual, hingga menunggu hasil cuci film, setiap langkah memerlukan kesabaran dan pertimbangan. Ini mendorong fotografer untuk lebih berpikir sebelum memotret, menciptakan hasil yang lebih disengaja dan berharga, berbeda dengan kebebasan memotret ribuan gambar di digital.
Komunitas fotografi analog juga berkembang pesat di Asia, dengan kelompok-kelompok yang saling berbagi tips, menjual dan menukar kamera serta film bekas, dan menyelenggarakan workshop. Ketersediaan toko yang menjual kamera film bekas yang terjangkau dan layanan cuci film juga mendukung tren ini. Dengan segala keunikan dan tantangannya, fotografi analog telah menemukan kembali tempatnya di hati anak muda Asia sebagai bentuk seni yang berharga dan cara untuk mengekspresikan diri.

